Tuesday, August 15, 2006

Cerita Mariyam

Namanya Mariyam, usianya masih 17. Seharusnya dia masih dalam masa SMA, waktunya bercanda dengan teman-teman sekolahnya. Tapi nasib mengantarkan dia bergelut dengan hidup lebih awal dari usianya. Dia harus bekerja keras menghidupi 2 adiknya, ibu dan neneknya yang sudah tua dan sakit2an.

Bapaknya hilang entah kemana. Pada awalnya Bapaknya bekerja sebagai TKI di Arab Saudi. Tapi menurut penuturan ibunya karena suaminya itu melarikan diri dari majikannya dan sampai sekarang tak ada yg tahu keberadaannya. Masih hidup atau sudah matikah juga tak ada yang tahu.

Sementara itu karena himpitan ekonomi, rumahnya digadaikan untuk membiayai keberangkatan suaminya dulu. Sedangkan uang tersebut sistimnya bunga berbunga karena pinjam dari renternir. Jadi semakin lama hutangnya semakin berlipat.

Untuk mencari bantuan ke saudara2nya pun tak bisa karena kondisi ekonominya tak jauh beda dengan mereka.

Sementara ibunya baru 1 bulan ini bekerja sebagai TKI di Malaysia yang kemudian dipulangkan karena sakit Typus dan usus buntu.

Rumah tempat mereka tinggal berada didaerah kumuh diantara rumah2 petak. Kondisinya hanya ada 2 kamar dan ruang tamu sempit tanpa meja kursi. Lantai polesan semen yang sudah rusak disana sini. Untuk keperluan memasak mereka melakukannya diluar sedangkan untuk keperluan mandi dan lainnya menggunakan sarana WC umum.

Adiknya Udin kelas 1 SMP, sekolah sekaligus mondok di Kediri yang kira-kira 3 jam jarak perjalanan dari Surabaya dengan biaya pendidikan diperoleh dari yayasan anak asuh. Adiknya yang terakhir Riski kelas 3 SD juga dengan biaya yayasan.

Mereka hanya dapat biaya pendidikan saja, jadi untuk kebutuhan lainnya menjadi tanggungan Maryam.

Dirumah, Maryam harus merawat neneknya yang sudah sakit2an dan adiknya Riski.

Ketika pagi menjelang dia mempersiapkan keperluan adiknya sementara dia juga menitipkan neneknya ke tetangga2nya untuk sesekali dicek secara bergantian.

Baru setelah itu dia berangkat kerja sebagai pembantu penjual pangsit, seharian sampai sore dia memperoleh uang 10 ribu.

Begitulah sekilas cerita tentang Maryam. Dengan kondisi ekonomi seperti itu dia bergelut menghidupi adik2nya, ibu dan neneknya yang sakit.


......... dan aku dan temen2 sedang menggalang dana utk biaya kesembuhan ibunya. Jadi bila ibunya sudah sembuh setidaknya bisa membantu Maryam mencari nafkah lagi.

0 Comments:

Post a Comment

<< Home